Aksi Topo Pepe di Keraton Yogya, Ini Harapan Buruh

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Puluhan masa aksi dari beberapa federasi buruh tergabung dalam Aliansi Buruh Yogyakarta (ABY) melakukan aksi Senin, (31/10/2016). Aksi dimulai pagi hari dengan berorasi di Gedung Kepatihan/Kantor Gubernur Yogyakarta menuntut kenaikan Upah Minimum Kabupaten/kota (UMK).

Setelah berorasi di Kepatihan, masa aksi melanjutkan long march ke Keraton Yogyakarta. Sepanjang jalan menuju Keraton satu massa aksi perempuan berpakaian kebaya hitam berjalan sambil menaburkan bunga. Kurang lebih sepuluh masa aksi lainnya berpakaian sorjan berjalan dibelakangnya.

Baca Juga:  Pra peradilan Obby Kogoya, ini penjelasan Polda DIY

Seluruh masa mengakhiri aksinya dengan topo pepe dan menaburkan bunga di gerbang Keraton. Masa aksi dengan pakaian adat ini duduk bersila dan diam di bawah panas matahari sebagai bentuk topo pepe.

Puluhan masa aksi lainnya berada di belakangnya sambil berteriak naikkan upah buruh. Orasi menyampaikan tuntutan di depan Keraton dilakukan secara bergantian.

Sekjend ABY, Kirnadi mengatakan topo pepe dengan memakai sorjan menjadi simbol rakyat yang mengadu kepada rajanya. Dari aduan rakyat yang disimbolkan dengan topo pepe ini, mereka berharap agar raja ikut andil dalam penentuan UMK Yogyakarta.

Baca Juga:  Buruh Yogya Gelar Aksi tolak RUU Omnibus Law "Cilaka"

“Filosofi dari topo pepe adalah menyimbolkan bahwa raja itu suci. Pakaian rakyat jelata, merupakan bentuk penghargaan terhadap raja sebagai entitas yang perlu dihargai,” tutur Kirnadi saat aksi sedang berlangsung. (Rep-04/Ed-01)