TPID Beberkan Ketersediaan Stok Pangan di DIY

Ilustrasi (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkirakan, secara umum kondisi stok bahan pangan strategis masih aman dan cukup.

Hal tersebut seperti disampaikan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Budi Hanoto, dalam Rapat Koordinasi (rakor) TPID DIY, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, 14 November 2018. Rapat yang juga dihadiri oleh Pengurus serta Anggota TPID DIY, termasuk dari TPID Kabupaten/Kota dan Satgas Pangan DIY ini membahas tentang antisipasi tekanan harga pada akhir tahun di tengah mulai berlangsungnya musim penghujan. Sekaligus, menyusun langkah konkrit TPID DIY dalam menghadapi potensi tekanan harga.

Menurut Budi, stok bahan pangan strategis untuk beras mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 4 bulan kedepan. Untuk stok Bulog dalam pelaksanaan operasi pasar juga dalam kondisi yang sangat baik yaitu sekitar 12.300 ton.

“Walaupun musim penghujan bergeser 1 bulan, namun TPID meyakini panen tetap dapat dilakukan di Triwulan I 2019 sehingga semakin memperkokoh stok pangan di DIY,” kata Budi melalui siaran pers.

Mengingat stok komoditas pangan relatif aman dan cukup, maka pihaknya menganggap, kelancaran distribusi atau ketersediaan pasokan menjadi aspek penting. Oleh karenanya, TPID dan satgas pangan akan melakukan monitoring secara ketat terhadap kecukupan pasokan dan kestabilan harga dengan memperluas area pemantauan seperti gapoktan, distributor, gudang, dan kantong distribusi lain di DIY. Dalam hal kelancaran pasokan.

“Kami juga menjajaki kerjasama antar daerah untuk mencukupi peningkatan permintaan komoditas pangan di akhir tahun,” tegasnya.

Meski demikian, pihaknya juga mengaku, akan tetap mewaspadai tekanan harga beberapa komoditas selain beras, seperti harga daging ayam ras, telur ayam ras, cabai merah, dan sayuran. Diantaranya dengan memperkuat akurasi data stok dan harga di gapoktan dan sentra produksi pada tingkat Kabupaten/Kota untuk komoditas tersebut, sebagai langkah antisipasi dan intervensi, jika diperlukan.

Sedangkan untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga, TPID melalui Bulog Divre DIY akan melakukan Operasi Pasar secara terukur, dengan frekuensi lebih sering dan jumlah yang lebih besar untuk komoditas strategis, khususnya komoditas beras.

“Kami memandang perlu adanya diversifikasi konsumsi pangan seperti ikan dan daging kerbau untuk mengurangi ketergantungan terhadap daging ayam dan daging sapi,” anggap Budi. Termasuk, merekomendasikan perlunya cold storage yang memadai, sebagai antisipasi bila terdapat lonjakan permintaan.

Begitu pun dengan potensi kenaikan tarif gas dan tarif transportasi yang perlu diwaspadai, seiring dengan tingginya permintaan masyarakat untuk berkunjung ke DIY saat momentum libur akhir tahun.

Pada Oktober 2018, DIY mencatat inflasi bulanan sebesar 0,13% (mtm), lebih rendah dibandingkan pencapaian nasional sebesar 0,26% (mtm). Dengan inflasi tersebut, akumulasi inflasi sepanjang tahun 2018 di DIY tercatat sebesar 1,61% (ytd) dan laju inflasi tahunan sebesar 2,74% (yoy).

Pencapaian inflasi hingga akhir tahun 2018 ini diperkirakan masih sejalan dengan sasaran inflasi yang ditetapkan yakni sebesar 3,5±1% (yoy). Komoditas penyumbang inflasi pada Oktober 2018 antara lain bensin, tukang bukan mandor, besi beton, cabai merah dan cabai rawit. Sementara komoditas penyumbang deflasi Oktober 2018 antara lain angkutan udara, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah dan bawang putih. (Ed-02)