UGM Minta Pemerintah Segera Membuat SOP Penanganan Ebola

Ilustrasi (sumber: 101jakfm.com)

SLEMAN (kabarkota.com) – Universitas Gadjah Mada (UGM) meminta pemerintah segera membuat Sandart Operational Prosedure (SOP) untuk penanganan wabah ebola. Ketua Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, UGM, Sunarno menilai, SOP itu sangat penting karena teknis penanganan orang yang suspect ebola berbeda dengan pasien lain.

Pemerintah dan termasuk perguruan tinggi, kata dia, bisa bekerjasama dalam pembuatan SOP ini, guna penanggulangan wabah ebola ini.

"Termasuk SOP peliputan media juga  diperlukan," kata Sunarto, usai 'Simulasi Penanggulangan Penyebaran Penyakit Menular Ebola' di UGM, Selasa (28/10). Menurutnya,jurnalis juga harus menjaga keselamatannya, saat melakukan peliputan. Mengingat, Hingga saat ini belum ada obat yang bisa menanggulangi penyakit jenis ini.

Baca Juga:  Pasca Pemilu 2019, Ini Catatan Komnas HAM dan Taman Siswa

Selain SOP, lanjut dia, seluruh lapisan masyarakat juga perlu mengikuti perkembangan wabah ebola. Tujuannya, supaya mereka dapat memahami karakteristik orang yang terserang wabah ebola. "Vaksi dan regulasi ini yang harus menjadi pemahaman," ujarnya.

la menjelaskan, wabah ini sangat mudah menyebar, baik  melalui udara, sentuhan, maupun benda-benda yang pernah dikenakan. Oleh karenanya, upaya untuk mencegah agar terserang, hanya bisa dilakukan dengan memproteksi diri dari yang suspect ebola.
"Seseorang harus menghindari sentuhan dan kontak dengan orang atau benda yang pernah dipakai pasien," tambahnya.

Baca Juga:  Presiden Putuskan Nasib Proyek Hambalang

Saat ini, kata Sunarnno, peralatan pendeteksi pasien suspect ebola belum terpenuhi sepenuhnya. Ia menyebutkan bahwa UGM pun baru memiliki 'thermal camera', yang berfungsi untuk mengetahui pasien suspect ebola ataukah tidak. Cara kerja alat ini, dengan membaca bagian kulit seseorang jika memang terindikasi wabah ebola. Selain itu, juga bisa dicari tahu melalui kondisi suhu tubuh.

Sementara, terkait dengan kabar penemuan vaksin ebola oleh organisasi kesehatan PBB, WHO, pihaknya berpendapat, hal tersebut merupakan perkembangan positif, meski pun belum bisa menjamin sepenuhnya. Ia juga mengingatkan bahwa belum genap sepekan ini, Malaysia dan Australia telah menemukan warganya yang suspect ebola, setelah kembali dari Afrika.

Baca Juga:  LBH Pers: Usut Tuntas Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis di Makassar

"Itu sebabnya pemerintah harus mewaspadainya," pinta dia.

AHMAD MUSTAQIM