Warga Kampung Badran Yogya Punya Cara Unik untuk Mengurangi Resiko Bencana

Kedatangan Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi (baju biru) dalam Deklarasi Kampung Sadar Bencana disambut Mas dan Mbak Badran, pada Jumat (16/8/2019). (dok. kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Pemukiman padat penduduk di perkotaan sering menyulitkan mobil pemadam kebakaran masuk ke perkampungan, saat kebakaran terjadi. Akibatnya, korban material, bahkan terkadang menjadi tak terselamatkan karena sulitnya akses pemadam menuju lokasi.

Hal itu yang mendorong warga Kampung Badran RW 09, Kelurahan Bumijo, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta melakukan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat secara mandiri, pada tahun 2006, atau tepatnya pasca Gempa besar di DIY waktu itu, dengan mendirikan Basis Organisasi Kesiagaan Komunitas
(Bokomi).

“Masyarakat di Kampung Badran RW 09 ini belajar mengelola dirinya sendiri dalam menghadapi bencana, karena kita hidup di ring of fire,” jelas Sekretaris Bakomi 192 Kampung Badran, Slamet Sumiyanto, jelang deklarasi Kampung Sadar Bencana di Badran, pada Jumat (16/8/2019).

Menurut Slamet, melalui Bokomi, seluruh lapisan masyarakat berlatih kesiapsiaganaan dalam menghadapi bencana, terutama kebakaran dengan peralatan-peralatan sederhana yang mereka miliki, seperti kereta pemadam kebakaran, alat pemadam kebakaran, kursi evakuasi, alat telekomunikasi antarwarga, hingga tas siaga bencana.

Radio dan HP merupakan peralatan yang harus ada dalam tas siaga bencana (dok. Kabarkota.com)

Tak hanya itu, lanjut Slamet, beberapa tokoh masyarakat di Kampung Badran juga diajak ke Jepang untuk belajar menangani bencana kebakaran di Negeri Sakura tersebut.

“Pada 26 Desember 2010, RW 09 Kampung Badran diberi label Bokomi 192 oleh pihak Jepang. Jadi di seluruh Indonesia yang ada hanya di sini,” ucapnya bangga.

Sementara Ketua Forum Kampung, Noorhadi Rahardjo menambahkan, pada perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke 74 Tahun 2019 ini, Kampung Badran mendeklarasikan diri sebagai Kampung Sadar Bencana. Mengingat, selama ini masyarakat sudah terbiasa bergotong-royong dalam menanggulangi bencana alam, dan bencana sosial di Kampung tersebut.

Noorhadi mengungkapkan, potensi bencana terbesar di Kampung Badran ini adalah kebakaran, karena rumah yang saling berdekatan, sementara kendaraan pemadam kebakaran sulit menjangkau lokasi pemukiman warga yang terletak di tepian sungai Winongo.

Oleh karenanya, Dosen Fakultas Geografi UGM ini juga membuat Kereta Pemadam Kebakaran yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa melewati gang-gang sempit di antara rumah warga.

Kereta pemadam kebakaran Kampung Badran Yogyakarta (dok. Kabarkota.com)

“Kami menghabiskan biaya pembuatan alat itu sekitar Rp 25 juta per unit,” ujarnya.

Selain Bokomi, imbuh Noorhadi, warga Kampung Badran juga berlatih mengolah sampah, sekaligus sebagai bentuk pemberdayaan, khususnya bagi masyarakat yang selama ini belum memiliki kegiatan.

“Mimpi kami, Kampung Badran sebagai Kampung laboratorium penanggulangan bencana berbasis masyarakat dan laboratorium pemberdayaan masyakat,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menyatakan, pihaknya mengapresiasi langkah warga yang mendeklarasikan Kampung Sadar Bencana. Mengingat, Kota Yogyakarta merupakan daerah yang potensi bencananya besar.

Semestinya ke depan, Wakil Wakikota Yogyakarta berharap, agar kampung-kampung di bantaran sungai mendeklarasikan diri sebagai Kampung Tanggap Bencana. (Rep-01/ Ed-02)