Yogyakarta Termasuk 40 Persen Kota di Dunia yang Mengalami Perubahan Iklim. Ini Penyebabnya

SLEMAN – Perkembangan perkotaan dari masa ke masa yang terjadi di Yogyakarta berpengaruh pada perubahan iklim di wilayah ini.

Dosen Fakultas Geografi UGM, Retnadi Heru Jatmiko memaparkan, suhu merupakan parameter kedua yang terdampak oleh perubahan iklim perkotaan setelah bencana alam.

Ia juga memperkirakan, 40 persen dari 67 persen kota di dunia mengalami perubahan iklim perkotaan.

“Salah satu kawasan yang berpotensi mengalami perubahan suhu permukaan adalah wilayah Kota Yogyakarta karena tingkat kepadatan penduduknya. Selain itu, Kota Yogyakarta merupakan wilayah yang padat bangunan dengan sedikit tutupan vegetasi sehingga memberikan suhu yang tinggi,” sebut Heru.

Berdasarkan hasil penggunaan citra saluran infra merah termal terhadap perubahan iklin perkotaan Yogyakarta, menurutnya,suhu tinggi  berada di pusat perkotaan. Setelah itu, suhu yang lebih rendah menuju ke arah pinggiran, dan mulai mendingin ke arah luar fisik kota. Suhu kemudian menjadi lebih dingin apabila semakin menjauh dari wilayah perkotaan.

“Distribusi suhu tinggi ada di pusat Kota Yogyakarta pada tutupan lahan bangunan permukiman padat yang ada di daerah pinggiran. Di sana juga terdapat lahan terbuka kering yang menghasilkan suhu tinggi,” ujarnya lagi.

Ditambahkan Heru, Penelitian tersebut dilakukannya sepanjang 2013 hingga 2014. Tutupan lahan terbangun, aspal, atap bangunan dan tutupan lahan di pusat Kota Yogyakarta memiliki temperatur ebih tinggi jika dibandingkan dengan tutupan lahan berupa tutupan vegetasi dan tutupan nonbangunan yang berada di luar perkotaan.

Perubahan temperatur suatu daerah, imbuh Heru, sangat berkaitan dengan perubahan tutupan lahan. Penggunaan citra saluran termal pada landsat 8 mampu menjadi indikator dari dinamika suhu permukaan lahan yang ada di area perkotaan.

Reporter: KK-04

Editor: Ara