Mengeluh di Medsos, Cat Lover di Yogya ini terjerat UU ITE

Jumpa pers tentang kasus fatkhurrohman di kantor LBH Yogyakarta, Rabu (2/11/2016). (Sutriyati/kabarkota.com)

YOGYAKARTA (kabarkota.com) – Fatkhurrohman, seorang pecinta kucing (cat lover) asal Yogyakarta ini tak pernah menyangka, keluh kesahnya tentang layanan salah satu klinik hewan  di wilayah Kalasan, Sleman, DIY, yang menurutnya mengecewakan, justru berbuntut panjang. Pria 26 tahun ini malah terjerat pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Informasi dan Layanan Elektronik (UU ITE), lantaran dilaporkan oleh pemilik klinik, karena dianggap telah mecemarkan nama baiknya.

Alhasil, Fatkhur datang mengadu ke kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, pada Rabu (2/11/2016), dengan didampingi sejumlah relawan dari Jogja Domestic Cat Lovers (JDCL) dan Animal Friends Jogja (AFJ).

Menurut Fatkhur, perkara bermula ketika dirinya mengunggah postingan di akun facebook miliknya, pada 20 Februari 2016 lalu. Selain meluapkan kekecewaannya atas layanan klinik pada 18 Agustus 2015, Fatkhur juga menyertakan gambar dua perempuan berinisial LC dan SDS yang tengah mengobati Boy, kucing kesayangannya. 

Baca Juga:  Deponering BW & AS: Momentum Penghentian Kasus Kriminalisasi Pegiat Antikorupsi

Pada 18 Agustus 2015, kata Fatkhur, sebenarnya ia hanya ingin mencukur bulu Boy. Namun, pihak klinik juga mencukur bulu mata kucingnya, karena secara fisik terlihat ada kelainan pada mata kucing itu. Hanya saja, setelah bulu mata dicukur, kucing bukannya sembuh tapi malah mengalami iritasi parah sehingga dilarikan ke Rumah Sakit Hewan (RSH) Soeparwi UGM Yogyakarta. 

Dari penjelasan dokter di RSH tersebut, baru terungkap bahwa sebenarnya tindakan yang dilakukan pihak klinik waktu itu dianggap tidak tepat, karena kucing mengalami entropion yang seharusnya penanganan melalui operasi.

Baca Juga:  "Si Thole" Uji Coba Hari Ini

“Pada 20 Oktober 2016, saya mendapat pangglan dari Polda DIY sebagai tersangka,” kata Fatkhur yang juga relawan JDCL ini kepada wartawan.

Fatkhur dilaporkan ke Polda DIY pada 25 Februari 2016, dengan nomer laporan: LP/218/II/2016/DIY/SPKT, dan dijerat dengan pasal 45 ayat (1) jo pasal 27 ayat (3) UU ITE, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Sebelumnya, pada 26 Januari 2016, Fatkhur mengaku bahwa dirinya juga sempat berusaha melaporkan pihak klinik ke kepolisian, namun ditolak dengan dalih tidak ada aturan yang bisa digunakan untuk menjerat kasus tersebut. 

Ikhwan Sapta Nugraha dari LBH Yogyakarta menyatakan, pihaknya masih akan menunggu sekaligus memantau, sejauh mana proses hukum tersebut berjalan. Mengingat, berkas sudah dilimpahkan ke kejaksaan, namun dikembalikan ke kepolisian karena belum lengkap.

Baca Juga:  UU ITE Direvisi, Indeks Kebebasan Berinternet di Indonesia masih Buruk

“Harapan kami, kejaksaan tidak gegabah melakukan penahanan terhadap Fatkhur,” pinta Ikhwan.

Sementara saat kabarkota.com mencoba mengkonfirmasi pihak klinik, LC masih enggan memberikan keterangan lebih jauh terkait kasus tersebut.

“Permasalahannya, dalam kasus ini bukan saya pribadi,” dalihnya. Meski begitu ia membenarkan bahwa dirinya termasuk salah satu yang menangani kucing Boy saat itu.

Sementara menurut salah satu petugas Klinik saat dihubungi kabarkota.com, SDS selaku pemilik klinik sedang tidak ada di tempat. (Rep-03/Ed-03)